MeTaMoRpHoSa!

Karena Allah Maha Kuat, Mengajari Kita Untuk Kuat…!

*sebuah cerpen…*

METAMORFOSA

Oleh: Martina Purna Nisa’

 

Sketsa itu sangat nyata. Bayangan seorang bocah mungil dan cantik baru berusia dua tahun menangis dan berteriak meminta Bundanya untuk tidak pergi. Sang Bunda bukannya tidak mendengar teriakan itu, air matanya mengalir deras, ingin sekali memeluk si buah hati dan mengurungkan niat untuk pergi, namun kenyataan lain haruslah dihadapi, bagaimanapun ia harus terus melangkahkan kaki.

**********

            Malam telah larut. Tapi janin di perutku seolah tidak mau tau, ia membangunkanku dengan rasa mual yang sangat. Abang tertidur lelap di sampingku, pasti kecapean sehabis kerja seharian. Tiba-tiba rasa ingin makan sesuatu datang, sesuatu yang tidak ada malam itu. Tidak hanya malam itu, aku rasa sesuatu itu tidak ada di seluruh penjuru Kairo. Abang pasti marah kalau aku membangunkannya dan mengutarakan permintaan anehku ini. Seolah tak mau tau, tetap saja aku membangunkan abang yang masih terlelap.

“Abang…abang…! Ading pengen es teler… ,”bisikku. Awalnya pelan. Namun karena gak ada reaksi dari abang, aku makin jadi. Merengek-rengek gak karuan. Abang terbangun, matanya masih merah. Duh sebenarnya gak tega, tapi gimana lagi…setengah menangis aku melanjutkan aksiku.

“Abang…cariin es teler!” aku mulai sesenggukan.

“Besok ya sayang…sekarang tidur dulu. Yuk…,” Abang berucap pelan mencoba membujukku. Ia masih terlihat mampu bersabar. Tapi karena aku tidak berhenti merengek akhirnya Abang marah. Aku tersentak. Tangisku makin kencang. Semalaman itu aku ngambek hingga akhirnya tertidur sendiri karena kecapean nangis. Abang juga tidak mau ambil pusing, ia sudah terbiasa menyikapi tingkahku yang makin aneh semenjak berbadan dua.

            Esoknya, aku merubah permintaanku. Aku cuma minta dibelikan bakso oriental. Abang langsung beranjak untuk membelikan pintaku, mumpung aku lagi gak minta macam-macam mungkin itu pikirnya. Tidak berapa lama, Abang datang dengan membawa makanan yang aku pinta. Tapi pikiranku jadi berubah, tiba-tiba selera itu hilang. Aku bilang sama Abang biar Abang saja yang makan. Abang menggeleng-geleng keheranan melihat tingkahku.

“Alhamdulillah dah kalo’ gitu. Hmm, padahal baksonya enak banget lho…!!!” ejek Abang. Aku memilih untuk tidak berkomentar. Biar saja.

********

Kasus minggu ini lain lagi. Aku sulit minum obat, tidak jarang aku hanya berpura-pura minum padahal obat tersebut aku buang. Bagaimana tidak, selain pilnya besar, dosisnya juga tinggi. Padahal aku tau, obat tersebut mengandung kalsium yang dibutuhkan oleh ibu hamil. Abang marah lagi setelah tau bahwa beberapa kali aku tidak meminumnya tapi justru membuangnya.

Ading udah mau minum Bang, eh…tiba-tiba obatnya jatuh,” jawabku mencoba mencari alasan. Abang pura-pura gak mendengar kalau aku sudah menjawab dengan berbagai alasan cerdik begitu.

Aku juga selalu enggan minum susu. Kalau dibuatin sama Abang, baru mau minum. Kalau Abang lagi kerja, aku malas bikin susu sendiri. Akhir-akhir ini aku makin malas mengerjakan pekerjaan rumah, banyak lalai dan lebih banyak tidur-tiduran, belajar juga malas, hafalan Qur’anku juga belum bertambah-tambah. Padahal Mei depan sudah ujian. Empat juz yang menjadi muqarrar belum tamam. Sesekali aku berfikir untuk keluar dari keadaan ini, tapi kadang aku mencoba memaklumkan diriku sendiri mungkin ini memang bawaan hamil, seperti keadaan calon ibu yang lain pada umumnya.

***********

“Ketika menjadi calon Ibu…kita harus lebih banyak belajar tegar. Karena itu merupakan latihan juga buat anak kita nantinya. Kalau kita semakin manja dan suka nuntut suami…besar kemungkinan nanti anaknya manja. Pengen sesuatu boleh tapi wajar saja, kalau timbul keinginan aneh-aneh cobalah untuk ditahan, itu bisa jadi nafsu semata…,” kalimat menyejukkan dari Mbak Naylah kembali terngiang-ngiang. Aku baru mengenalnya, tapi hikmah yang kudapat dari pertemuan itu sangat berharga dan besar nilainya.

Mbak Naylah satu sosok perempuan yang kukenal sangat tegar. Aku mungkin tidak ada apa-apanya dibanding dia. Hanya orang terpilih yang bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. Jauh dari suami, berpisah dari buah hati untuk menuntut ilmu. Semua bisa dengan tabah dan tegar dilaluinya. Mungkin sangat tidak mudah, tapi Mbak Nayla…meski begitu ia terus melawan cobaan itu dan benar-benar menggunakan kesempatan belajar di Kairo sebaik mungkin. Tidak ada baginya waktu untuk berleha-leha, tekadnya hasil yang ia peroleh dari Kairo harus jauh lebih besar dari pengorbanan yang ia lakukan. Tidak heran, predikat jayyid jiddan senantiasa disandang setiap tahun. Subhanallah.

Perjuangannya saat mengandung hingga melahirkan juga sangat luar biasa. Semua dilalui tanpa didampingi sang suami tercinta. Ia pun cukup keras mentarbiyah dirinya sendiri, tidak diragukan Rani kecil nama si buah hatinya kelak akan menjadi wanita tegar seperti Ibunya. Sebuah sketsa miris tergambar di benakku, bagaimana Rani kecil menangis kencang tiap kali Mbak Naylah pergi.

Dari cerita yang aku dengar, dulu seringkali Mbak Naylah membagi perasaannya kepada adik-adik kelasnya, betapa ia sangat merindukan Rani, putri kandungnya. Sesekali mereka memergokinya sedang menangis sambil menatap lekat foto Rani.

            Sedangkan aku? Hari ini aku lebih banyak merenung. Mencoba mengartikan lagi arti seorang suami dan anak bagiku seorang wanita. Bahwa wanita adalah istri dan juga ibu. Tugas itu sangat besar, dibutuhkan perjuangan dan ketegaran. Mampukah seorang wanita yang rapuh dan manja menjalani dua profesi agung itu dengan baik? Aku menangis. Betapa pada hakikatnya suami dan anak merupakan jalan terdekat yang Allah wasilahkan sebagai wadah kita bermetamorfosa menjadi hamba-Nya yang sempurna! Aku bersyukur mampu menangkap makna ini.

Allah Maha Kuat, mengajari kita untuk kuat. Detik itu juga aku menghambur ke pelukan Abang, mencium tangannya penuh khidmah. Memintanya untuk mengecup keningku tanda penerimaan maaf. Hari itu aku membersihkan seluruh rumah dan membuatkan masakan special untuk Abang. Aku minta maaf atas tingkahku yang merepotkannya akhir-akhir ini, aku juga bilang gak akan ngidam apa-apa lagi. Abang hanya tersenyum simpul seolah tidak begitu yakin bahwa aku tidak akan minta yang aneh-aneh lagi.

Sehari dua hari aku memang menjadi istri yang sangat manis. Tapi setelah satau minggu, hehe bisa ditebak…sepertinya ketidakyakinan Abang benar…ups…keinginan itu datang lagi. Ngidamku kambuh. Aku mencoba menahannya. Permintaanku kali ini tidak begitu aneh, sepertinya gak papa deh sekali-sekali aja minta lagi . Yang terakhir deh. Bisikku dalam hati. Malam itu sudah jam 11 malam, aku mendekati Abang pelan.

“Abang…hmm ading pengen empek-empek,” bisikku malu-malu. Abang terdiam baru kemudian tertawa seraya mengacak rambutku.

“Akhirnya gak kuat juga kan? Payah. Ading aneh…katanya gak mau minta macam-macam lagi! Huh….” Jawab Abang. Meski malam sudah larut Abang memilih pergi mencarikan empek-empek yang aku minta.

“Iya…iya. Ini buat calon anak Abang, bukan buat Ibunya lho….” canda Abang sebelum pergi berlalu mencarikan makanan idamanku. Aku hanya tersenyum sambil tersipu malu. Yang terakhir deh empek-empeknya. Bisikku dalam hati.

                                                                                   

-Ading: adik (bhs Banjar)

                                                                                    -Tamam:sempurna (bhs Arab                         

Cintai Aku Karena ALLah

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, senang sekali bisa mengunjungi blog ini lagi. Ini kali pertama nyoretin blog pasca married. Terutak-atik sedikit, karena sepertinya banyak sisi yang harus didewasakan. Hmm, sedikit lebih sejuk. Metamorphosa. Sebuah proses pendewasaan. Mencoba memaknai hidup lewat sesama, terutama lewat orang-orang terdekat. Suami contohnya. Seseorang yang aku panggil abang. Yang senantiasa kuciumi tangannya setiap selesai sholat atau ketika beliau harus pergi kuliah atau kerja. Yang setiap kali menatapnya jutaan haru melimpah, ribuan makna terpatah-patah. Betapa lewat seorang Muhammad Hamzahlah penentuan SURGA atau NERAKA ku.

Abang tersayang…
Yang selalu mengerahkan seluruh tenaga, emosi dan pikirannya untuk memahami sosok manja sepertiku. Yang perlahan-lahan mengajariku arti dewasa yang sebenarnya.
Kini ijinkan aku melukiskan semua tentangmu lewat diary abstrak ini. Meski ku tau, semua tak akan bisa melukiskan semua tentangmu dengan sempurna.

Abang…ini aku istrimu dengan begitu banyak kekurangan. Samihni ‘ala kulli syai’. Aku mencintaimu karena Allah. Maka, cintailah aku pun karena Allah.

MuNgKin AkAn SeGeRa TiBa…!

“Sekarang…….. lakukanlah apa yang ingin tina lakukan, karena Allah dan demi menuju kepada Allah.
Lakukan menururt petunjuk syariah dan adabnya.

selanjutnya serahkan, tawakal dan berserah kepada-NYA.
TUNAIKAN HAK ALLAH MELALUI TUGAS TINA YANG BARU SEBAGAI ISTERI DAN IBU DARI ANAK-NAK NANTI.
JANGAN PERNAH MERASA BERBUAT UNTUK SELAIN ALLAH (MAKHLUK)
semoga Allah memberikan tina faham, faham kepada diri sendiri, hidup ini dan faham kepada ALLAH SWT…”

Amien. Tak henti air mata ini mengalir menerima potongan pesan balasan yang dikirim lewat email oleh salah seorang ustadz tempat saya bermudzakaroh. Sepertinya di hati ini banyak perasaan yang tak terungkap…mengenang sembilan belas tahun perjalanan hidup yang penuh kelokan. Kelokan itu sepertinya akan terhenti….ah bukan berhenti! Tapi menuju satu tikungan yang lebih tajam lagi. Sebuah pernikahan. Benarkah? Akan sampaikah saya pada noktah takdir yang penuh dengan amanah ini? Biidznillah.

~Mohon doa & restu~

Kedamaian itu Ada Dimana?!!!

Pernahkah kita merenung sebenarnya selama ini kita berbuat sesuatu untuk siapa? Seorang atasan memerintah bawahannya, kemudian si bawahan mengerjakan perintah bosnya apakah ini berarti dia melakukan itu untuk bosnya?!! Yang kemudian berujung untuk mendapatkan gaji?!!! Read the rest of this entry »

Agustus KeLaBu…!

KARENA MASING-MASING KITA ADALAH JEMBATAN UNTUK MENUJU RABB…! MAKA SEHARUSNYA TIDAK PERNAH ADA CELAH UNTUK SALING MENGHINA, MENCACI DAN MENYALAHKAN…APALAGI PERMUSUHAN:( ATAU APAKAH MAKNA HARGA DIRI KINI BERGESER MENJADI EGO SEMATA?!!!

(Semoga keadaan cepat kembali DAMAI. Amien) 

Tentang EMPAT

Abdullah Ibnu Mas’ud ra berkata: 4 perkara merupakan kehitaman hati:

1. perut yang kenyang tanpa memperdulikan akibatnya,

2. berteman dengan orang2 zalim,

3. melupakan dosa-dosa lalunya,

4. berangan-angan panjang.

Ada 4 perkara juga merupakan hati yang bercahaya:

1. perut yang lapar tanpa melelamhkan,

2. bersahabat dengan orang soleh, Read the rest of this entry »

Dunia Dua Purnama

 Hay Asyir, di sebuah imaroh sederhana 

Huff! Aku menghembuskan nafas kesal. Kenapa jadi begini? Yang terhasilkan dari penaku selalu kata-kata berisi ratapan. Hampir sepuluh lembar kertas folio kuhabiskan untuk meratap. Apa sih yang kurang dari kamu, Aisya Purnama Putri? Baru saja nilai mumtaz diperoleh…

Baru dua hari kemaren juga kabar proposal beasiswa di propinsi yang Ayah bikin untuk kamu disetujui oleh gubernur… bukankah itu adalah kebahagiaan yang tak terperikan? Kenapa masih saja murung dan bersedih? Aku merutuki diriku sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam itu. Mungkin karena aku baru saja  patah hati! Gumamku lagi sambil menyisakan tawa sinis di bibir. Ya, jawaban yang tepat! Sangat tepat bagi sang melankolis sepertiku! Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.